21st Avenue, sebuah kafe berkonsep sky dining di komplek Mistletoe Square menjadi tempat tujuan Marvell dan Bella sore itu. Suasana jazzy sangat terasa ketika menjejakkan kaki di pintu masuk kafe. Alunan lagu “Fly Me to the Moon” yang nada-nadanya mengalir lembut dari permainan saxophone Julian, sang pemilik kafe, semakin menguatkan aura jazz yang melingkupi kafe tersebut.
Bella memilih tempat duduk di sebelah kolam kecil di tengah kafe. Marvell melambaikan tangan pada Julian dan langsung sibuk dengan daftar menu di tangannya. Julian yang baru saja menyelesaikan nada terakhir dari permainan saxophone nya, segera turun dari panggung dan menghampiri mereka.
“Hei, bro! Apa kabar lo? Lama nggak ketemu, udah punya pacar baru, nih?” Ledek Julian.
“Pacar baru? Wha--?” Bella kaget setengah mati mendengar pertanyaan Julian.
“Jul.. Don’t you remember her? It’s Bella.. Bukannya kalian udah saling kenal ya?”
“Damn! What you’ve done to her dude?? Bella, you’re so different.. Kayaknya kita kenalan waktu lo masih semester satu ya? Rasanya waktu itu lo.. ah.. now you look skinnier and more mature..”
Mature.. Does she? gumam Marvell dalam hati dan tersenyum simpul. Entah apa artinya senyuman itu.
“Aku cuma memendekkan rambut aja kok, Jul.. and I never say yes to diet.. Jadi agak aneh tuh kalau kamu bilang aku lebih kurus..”
Walaupun sebenarnya aku senang juga sih dibilang agak kurusan.. Bella tersenyum sendiri mendengar batinnya angkat bicara.
“Hmm.. jadi bagaimana hubungan kalian sekarang? Jangan-jangan udah more than just a friend lagi?”
Julian yang blak-blakan telah sukses membuat kedua sahabat itu tercengang sesaat.
“Hmm.. Kayaknya kurang asik nih kalo gue masih disini.. Gue ke dapur dulu ya.. Panggilan alam nih buat bikin masakan spesial buat dua sahabat gue..” Ujar Julian sambil tersenyum dan berbisik pada Bella, “Semoga makanan ini bisa meluluhkan hati Marvell buat lo ya belle..”
Kalimat Julian berhasil membuat pipi Bella memerah dan tersenyum lebar.
Marvell mengangkat sebelah alisnya.
“Julian bilang apa?”
“Nggak kok.. Makan yuk.. Aku laper..” Bella segera mengambil roti cane, mencelupkannya ke kuah curry, dan melahapnya dengan cepat.
“Rakus ih..” Ledek Marvell
“Biarin.. Kamu makan lah.. Tadi katanya laper..”
“Iya..”
Bella menyeruput iced caramellate dan tersenyum menatap Marvell yang makan roti cane dengan lahap. Marvell merasa ada sepasang mata yang menatap dirinya. Ia berhenti melahap roti cane dan menatap balik ke arah Bella.
“Lo kenapa liatin gue kayak gitu?”
“Ngg.. Nggak apa-apa.. Aku cuma heran aja.. Semua temenku nggak ada yang anggep aku jomblo lagi.. Semua pikir aku jadian sama kamu.. Nama baik aku bisa hancur kalo begini caranya..” Bella merengut.
Marvell tergelak.
“Kok malah ketawa sih?” Bella tambah merengut.
“Abis lo kocak sih.. Bella, namanya juga hidup di Fakultas Psikologi.. Kalo emang lo mau cepet dianggep jomblo, ya mending cepetan lulus aja.. Mereka semua mana ada yang bisa tahan sih liat cowok dan cewek sahabatan? Pasti ada aja kan gosip yang muncul..”
“Iya sih.. Tapi aku capek.. Kapan aku mau punya pacar kalo kayak gitu?”
Kapan kamu akan bikin gosip itu jadi nyata sih, V? Batin Bella.
Seorang pelayan datang mengantarkan satu porsi Pratta Bread with Beef Curry untuk Marvell, dan satu porsi Rib Steak untuk Bella.
“Sabar aja ya.. Mending sekarang makan yuk..” Marvell mengusap kepala Bella lembut.
Bella tersenyum mengangguk dan mulai menyantap Rib Steak nya.
Marvell menatap Bella sesaat.
Be patient, dear belle.. One thing you should know, that i won’t let anybody hurts you my little princess..
***
Alcastor Marvello Adam menangkap bola basket yang dilempar oleh teman satu tim nya dari ujung lapangan dan menyelesaikan pertandingan hari itu dengan sebuah lay up cantik. Aksi penutup dari Marvell tersebut mengantarkan Universitas Arcadia menjadi juara pertama dalam ajang Psychofest 2009. Sorak sorai para pendukung pun bergema. Pertandingan berakhir dengan skor 80-78. Sangat tipis dan mengakibatkan peluh teman-teman satu tim dari Universitas Arcadia ikut membasahi tubuh Marvell yang dihujani pelukan.
Usai berdoa bersama di tengah lapangan, Marvell melemparkan pandangan ke tribun penonton. Berharap menemukan seseorang disana. Ah. Itu dia di sudut kanan paling depan. Seorang gadis berkacamata menyibakkan rambut pendeknya sambil menjepit sebatang rokok dengan tangan kanannya. Cantik. Unik. Independen sekaligus begitu rapuh. Setidaknya begitulah persepsi Marvell sejak pertama hingga kesekian kalinya ia menatap gadis itu. Gadis itu melambaikan tangan kiri ke arahnya dan mengacungkan kedua jempol yang kukunya dicat dengan cat kuku berwarna biru. Marvell tersenyum dan menghampirinya.
“Hei! Selamat ya!”
Begitulah kalimat pertama yang diucapkan sang gadis dengan ceria sambil mengulurkan tangan kanannya. Marvel mengangkat tangan tersebut dan menciumnya.
“Hmm.. Black Menthol again, huh?”
“Ng? How could you know?”
“Bukan hal penting gimana gue tahu lo merokok lagi.. Tapi gue mohon jangan lakukan itu lagi ya..”
Kamu bodoh. Merokok di tribun penonton. Bagaimana bisa aku tidak melihatnya? Lagipula tanganmu pun ternodai oleh bau rokok. Marvell hanya tersenyum kecil dan menggumam dalam hati.
“Argh.. Just stop acting like you’re my dad.. Udahlah--” Rengek gadis itu.
“Tunggu gue di senat ya.. Gue evaluasi dan mandi dulu.. Setelah itu kita dinner..”
“Oke.. Kalau kamu lama, aku akan ditemani sebatang Black Menthol lagi..”
“It won’t be long, my dear Anabella.. Twenty minutes start from now..”
Marvell mengacak-acak rambut Bella dan berjalan menghampiri Armand, rekan satu timnya.
“Aww.. Here comes the prince.. Kapan lo akan jadian sama Bella?” Ledek Armand.
Marvell hanya tersenyum kecil, mengambil tasnya dan berjalan bersama Armand menuju tempat pelatihnya sedang melakukan evaluasi.
***
“Mengertilah, Ayuna.. Berhentilah menjodohkan aku dengan teman-temanmu.. Aku sangat menghargai usaha dan niat baik kamu.. Tapi aku benar-benar lagi nggak berniat untuk punya pacar saat ini..”
Altair Anabella Callista.
Bella. Setidaknya begitulah seluruh kerabat memanggil dirinya. Seorang gadis muda berusia 19 tahun yang berkuliah di Universitas Arcadia. Seorang gadis yang sangat langka ditemukan di era globalisasi yang serba instan. Seorang gadis yang nampak begitu kritis dan independen.
“Mau sampai kapan? Stuck sama masa lalu nggak akan membawa kamu ke dunia yang lebih baik, Anabella.. Martin kurang oke ya?”
Martinus Arditya, seorang pianis muda yang cukup tampan. Pesonanya sangat mampu membuat sejuta gadis terpana. Namun bagi Bella, Martin hanyalah bagian dari kaum adam yang hanya mampu menyakiti hati wanita dengan segala ketajaman pesonanya.
“Martin? Dia baik. Tampan. Sangat romantis.”
“Lalu? Kenapa kamu menolak untuk dijodohkan dengan dia? Banyak banget cowok yang udah aku kenalin ke kamu.. Martin cuma salah satunya.. Kenapa masih kamu tolak juga sih?”
“For now, the only reason is just because I’m happy for being single my dear, Ayuna..”
Ayuna hanya menghela napas mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Pernyataan yang sudah sejuta kali ia dengar, namun ia tahu bahwa pernyataan itu hanyalah alibi Bella yang masih tergila-gila pada mantan pacarnya.
“Hmm.. Baiklah kalau kamu begitu yakin dengan keinginanmu itu.. By the way, memangnya kemarin Martin mengajak kamu kemana?”
“Makan malam di Segarra, Ancol. Sunset. Deburan ombak. All that kind of romantic stuffs. Cukup menggugah karena ternyata seleranya cukup bagus dalam memilih set menu makanan..”
Bella bercerita sambil melanjutkan mengetik makalah psikologi abnormal nya mengenai gangguan makan yang harus dikumpulkan besok siang.
“Lalu?”
“Lalu? Apalagi yang ingin kamu dengar? Aku cukup tertarik dengan semua caranya untuk menarik perhatianku, tapi dia tidak cukup cerdas untuk membimbingku pada tataran kognitif yang lebih tinggi lagi..”
“Ya ya.. Selalu ada yang kurang bagi miss obsessive yang satu ini.. Segalanya harus serba perfect.. Sempurna.. Ya sudahlah kalau begitu.. Padahal aku hanya tidak ingin melihat sahabatku menjadi perawan tua..”
Bella tergelak mendengar pernyataan Ayuna barusan.
“Jangan tertawakan niat baik aku, Anabella..” Ayuna meringis.
“Oh my God! Ayuna.. Aku bukan menertawakan niat baikmu.. Aku sangat berterima kasih.. Tapi aku baru berumur sembilas belas tahun.. Masih banyak sekali impian yang harus aku capai.. Aku yakin di sepanjang jalan meraih impian itu, aku akan bertemu seseorang yang luar biasa menakjubkan dan bisa menjadi pendamping hidupku.. Tenang saja..”
“Whatever you say, Bella.. Kamu tidak akan pernah tahu siapa yang menakjubkan jika kamu tidak pernah mencoba..”
Ayuna melempar pandang ke sekeliling C Square. Sementara Bella bergumul dengan pikirannya sendiri.
Aku sangat mudah tertarik pada pria yang humble dan supel. Namun lagi-lagi, bayang-bayang masa lalu bersama Aldrick selalu menghantui diriku. Kenangan yang indah sekaligus menyakitkan kerap menyambangi pikiranku. Aku sangat ingin keluar dari semua ini, Ayuna, tapi tidak bisa semudah itu.
Lamunan Bella terpecah oleh pekikan Ayuna.
“My God! Aku lupa aku ada janji untuk lunch sama Michael di Mistletoe! Aku harus pergi sekarang.. Kamu nggak apa-apa sendirian?” Ayuna panik dan langsung membereskan barang-barangnya.
“Nggak apa-apa.. Bentar lagi Sabrina juga kesini kok..”
“Oke.. Aku duluan ya.. Talk to you later, darla!”
“Yup.”
Bella menatap kepergian Ayuna yang berlari-lari menuju Mistletoe Square, sebuah tempat hangout di sebelah gedung kampus Universitas Arcadia. Ia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Ayuna yang selalu ajaib. Bella seringkali merasa gemas melihat tingkah lakunya yang cenderung polos dan lugu, tapi suka sok dewasa. Ayuna adalah teman pertama Bella di kampus sekaligus teman yang paling nggak betah melihat Bella yang mencintai kesendiriannya. Baginya, nggak punya pacar sama saja merelakan masa muda lewat begitu saja. Ayuna sudah tiga tahun berpacaran dengan Michael, sahabat Aldrick.
***
“UHUK UHUK..” Bella terbatuk keras saat keluar dari kamarnya.
“Kemarin malam pulang jam berapa?” tanya Indira dingin.
Sesaat Bella menatap ibunya yang duduk di meja makan. Ia berjalan menuju dapur yang tak jauh dari sana dan mengaduk dua gelas latte hangat. Untuknya dan untuk sang ibu.
“Jam sepuluh..”
“Ngerjain apa sih di kampus? Harus sampai selarut itu?”
Ma, tolong.. Pagi ini jangan diisi dengan kemarahan.. Bella capek..
“Tugas, ma.. Semester ini semua mata kuliah tugasnya menggunung..”
“Udah tugasnya banyak, masih pergi ke gunung, masih rapat-rapat.. Sakit aja nggak sembuh-sembuh.. Disuruh minum obat susahnya minta ampun..”
Ma.. udah.. tolong jangan itu lagi..
“Ini cuma karna Bella kurang minum air kok, Ma.. Bella jarang bawa air minum lagi ke kampus.. Makanya batuk-batuk terus..”
“Dikasih tau, selalu ngebantah.. Terserah kamu lah..”
Bella terdiam dan mengunyah pelan roti tawar cokelat yang dari tadi tak habis-habis ia makan. Pagi itu ia habiskan dalam diam bersama Indira. Indira hanya membolak-balik halaman koran sambil sesekali menyeruput latte yang diseduhkan oleh putrinya.
Sedih? Tentu saja.
Sulit sekali memiliki waktu seperti ini. Sarapan bersama Indira. Suatu momen berharga bagi Bella, namun selalu berakhir mengenaskan.
Bella menatap jam tangan yang melingkar di tangannya. Waktu menunjukkan pukul sembilan tepat. Bella bergegas meraih tas merahnya, mengenakan sandal batik kesayangannya, dan pergi.
“Ma, Bella pergi dulu..”
Tak ada balasan jawaban dari Indira.
Ya sudahlah.. Bukan hal yang baru sekali ini terjadi.
Bella mengunci pintu pagar rumahnya. Ketika berbalik, matanya terpaku pada seorang wanita muda yang sedang menuntun seorang gadis kecil untuk mengantarkan gadis kecil itu ke taman kanak-kanak di seberang rumah Bella.
Bella menghela napas dan segera melangkahkan kakinya dengan cepat.
Rindu masa-masa itu..
***
heiho readers!haloo.. saya kembali dengan cerita bergenre *mungkin* chicklit..dalam cerita kali ini, mungkin saya akan banyak menggunakan nama-nama yang familiar di telinga anda.. namun sekali lagi, saya membuat karya ini tanpa tendensi apapun.. semua kisah dalam cerita ini adalah fiktif belaka.. kesamaan nama, tempat, atau apapun di dalam cerita ini adalah tanpa disengaja.. :))have a good time all!!God bless.
Pk 22.30
Maaf, ma.. Bella pulang malam lagi..
Bella menghela napas saat menatap pintu rumahnya yang tertutup rapat. Ia merogoh kunci rumahnya dan segera masuk ke dalam. Bella segera masuk ke kamarnya, menyalakan koneksi internet pada Dell Inspiron nya-yang ia beri nama Milo-, dan kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rutinitas malam ini tidak jauh berbeda dengan biasanya. Hampir tiga minggu lamanya Bella pulang larut malam. Entah karena mengerjakan tugas atau berkegiatan lain di kampus. Air panas yang mengucur dari pancuran kamar mandi berhasil menenangkan diri Bella dan melupakan segala tugasnya sejenak.
Bella baru saja keluar dari kamar mandi, ketika messenger alert nya menyala, menandakan salah seorang dari messenger contacts nya baru saja online.
anna.b says :
has just arrived at home.. and i'm so f*cking tired..
Lama sekali lawan bicaranya membalas percakapan tersebut hingga akhirnya Bella memutuskan untuk pergi ke dapur dan menambah asupan kafein dalam tubuhnya. Bella berjalan kembali ke kamarnya sambil mengaduk latte yang baru saja ia buat. Ia duduk di depan Milo, menyeruput sedikit latte hangat, dan mulai mengetik makalah psikologi abnormal yang menjadi ‘pacar’nya malam ini. Lantunan suara Michael Buble dan Nelly Furtado merangsang produktivitas kognisi Bella saat sebuah pesan muncul di layar laptopnya.
mv says :
haha.. stop whining, little miss spoiled.. :LOL:
anna.b says :
i'm not whining, you jerk! >:( and i'm not a spoiled brat!
mv says :
bercanda, annabella.. ada apa?
anna.b says :
nothing.. kasian nyokap, anaknya jarang di rumah..
mv says :
it’s the path you’ve chosen, my dear..
anna.b says :
never thought it would be like this.. sedih juga.. jadi nggak punya individual space lagi..
mv says :
take it as a precious experience.. just remember that you won’t get it for free..
anna.b says :
yeah.. ngg.. ada waktu kosong besok?
mv says :
it’s should be my question, dear.. :evillaugh:
anna.b says :
graa!! >:(
mv says :
watch out for a mad t-rex!! :LOL:
besok gue kosong habis kelas.. ada apa?
anna.b says :
HEY! i'm not a tyrannosaur rex!! graa!! >:(
hmm.. i've got to go now.. still a lot of things to do..
how about 21st avenue 6 p.m tomorrow?
mv says :
i'll put it on my highest priority.. kapan lagi date sama miss busy satu ini?
catch up with you tomorrow, busy girl.. :)
anna.b says :
see you tomorrow, boy..
have a good night.. don’t let the bed bugs bite you! ^^ God bless.
Bella menutup layar chat nya dan segera kembali fokus pada makalah yang sedang ia godok. Namun matanya tertuju pada pojok kanan layar. Ada foto dirinya dengan Marvell muncul disana.
Huff.. you don’t know how much I miss you, boy.. eventhough I’ve seen you almost everyday..
Bella bukanlah tipe mahasiswa yang bisa diam saja ketika mendapat tawaran pekerjaan atau sebuah posisi menggiurkan dalam organisasi kemahasiswaan di kampus. Rasanya ada yang kurang dalam dirinya jika tidak ada jadwal ‘rapat’ tertera di agendanya. Walau tak dapat dipungkiri, rasa lelah semakin menggerogoti dirinya dari hari ke hari dan ia sangat merindukan waktu yang seharusnya ia habiskan untuk dirinya sendiri. Untuk keluarganya. Untuk mencari pendamping hidup atau dengan kata lain, seorang kekasih.
Pk 02.00
Bella menguap dan menenggak sisa latte nya.
Enough for tonight, Milo.. nite.
Ia menutup laptopnya, beranjak menuju kasur dan selimut yang telah bersiap untuk memeluk dirinya.
***