Tuesday, June 22, 2010

371iloveyou satu #5

21st Avenue, sebuah kafe berkonsep sky dining di komplek Mistletoe Square menjadi tempat tujuan Marvell dan Bella sore itu. Suasana jazzy sangat terasa ketika menjejakkan kaki di pintu masuk kafe. Alunan lagu “Fly Me to the Moon” yang nada-nadanya mengalir lembut dari permainan saxophone Julian, sang pemilik kafe, semakin menguatkan aura jazz yang melingkupi kafe tersebut.

Bella memilih tempat duduk di sebelah kolam kecil di tengah kafe. Marvell melambaikan tangan pada Julian dan langsung sibuk dengan daftar menu di tangannya. Julian yang baru saja menyelesaikan nada terakhir dari permainan saxophone nya, segera turun dari panggung dan menghampiri mereka.

“Hei, bro! Apa kabar lo? Lama nggak ketemu, udah punya pacar baru, nih?” Ledek Julian.
“Pacar baru? Wha--?” Bella kaget setengah mati mendengar pertanyaan Julian.
“Jul.. Don’t you remember her? It’s Bella.. Bukannya kalian udah saling kenal ya?”
Damn! What you’ve done to her dude?? Bella, you’re so different.. Kayaknya kita kenalan waktu lo masih semester satu ya? Rasanya waktu itu lo.. ah.. now you look skinnier and more mature..

Mature.. Does she? gumam Marvell dalam hati dan tersenyum simpul. Entah apa artinya senyuman itu.

“Aku cuma memendekkan rambut aja kok, Jul.. and I never say yes to diet.. Jadi agak aneh tuh kalau kamu bilang aku lebih kurus..”

Walaupun sebenarnya aku senang juga sih dibilang agak kurusan.. Bella tersenyum sendiri mendengar batinnya angkat bicara.

“Hmm.. jadi bagaimana hubungan kalian sekarang? Jangan-jangan udah more than just a friend lagi?”

Julian yang blak-blakan telah sukses membuat kedua sahabat itu tercengang sesaat.

“Hmm.. Kayaknya kurang asik nih kalo gue masih disini.. Gue ke dapur dulu ya.. Panggilan alam nih buat bikin masakan spesial buat dua sahabat gue..” Ujar Julian sambil tersenyum dan berbisik pada Bella, “Semoga makanan ini bisa meluluhkan hati Marvell buat lo ya belle..”

Kalimat Julian berhasil membuat pipi Bella memerah dan tersenyum lebar.
Marvell mengangkat sebelah alisnya.

“Julian bilang apa?”
“Nggak kok.. Makan yuk.. Aku laper..” Bella segera mengambil roti cane, mencelupkannya ke kuah curry, dan melahapnya dengan cepat.
“Rakus ih..” Ledek Marvell
“Biarin.. Kamu makan lah.. Tadi katanya laper..”
“Iya..”

Bella menyeruput iced caramellate dan tersenyum menatap Marvell yang makan roti cane dengan lahap. Marvell merasa ada sepasang mata yang menatap dirinya. Ia berhenti melahap roti cane dan menatap balik ke arah Bella.

“Lo kenapa liatin gue kayak gitu?”
“Ngg.. Nggak apa-apa.. Aku cuma heran aja.. Semua temenku nggak ada yang anggep aku jomblo lagi.. Semua pikir aku jadian sama kamu.. Nama baik aku bisa hancur kalo begini caranya..” Bella merengut.

Marvell tergelak.
“Kok malah ketawa sih?” Bella tambah merengut.
“Abis lo kocak sih.. Bella, namanya juga hidup di Fakultas Psikologi.. Kalo emang lo mau cepet dianggep jomblo, ya mending cepetan lulus aja.. Mereka semua mana ada yang bisa tahan sih liat cowok dan cewek sahabatan? Pasti ada aja kan gosip yang muncul..”
“Iya sih.. Tapi aku capek.. Kapan aku mau punya pacar kalo kayak gitu?”

Kapan kamu akan bikin gosip itu jadi nyata sih, V? Batin Bella.

Seorang pelayan datang mengantarkan satu porsi Pratta Bread with Beef Curry untuk Marvell, dan satu porsi Rib Steak untuk Bella.

“Sabar aja ya.. Mending sekarang makan yuk..” Marvell mengusap kepala Bella lembut.

Bella tersenyum mengangguk dan mulai menyantap Rib Steak nya.
Marvell menatap Bella sesaat.

Be patient, dear belle.. One thing you should know, that i won’t let anybody hurts you my little princess..

***

No comments:

Post a Comment