Usai berdoa bersama di tengah lapangan, Marvell melemparkan pandangan ke tribun penonton. Berharap menemukan seseorang disana. Ah. Itu dia di sudut kanan paling depan. Seorang gadis berkacamata menyibakkan rambut pendeknya sambil menjepit sebatang rokok dengan tangan kanannya. Cantik. Unik. Independen sekaligus begitu rapuh. Setidaknya begitulah persepsi Marvell sejak pertama hingga kesekian kalinya ia menatap gadis itu. Gadis itu melambaikan tangan kiri ke arahnya dan mengacungkan kedua jempol yang kukunya dicat dengan cat kuku berwarna biru. Marvell tersenyum dan menghampirinya.
“Hei! Selamat ya!”
Begitulah kalimat pertama yang diucapkan sang gadis dengan ceria sambil mengulurkan tangan kanannya.
Marvel mengangkat tangan tersebut dan menciumnya.
“Hmm.. Black Menthol again, huh?”
“Ng? How could you know?”
“Bukan hal penting gimana gue tahu lo merokok lagi.. Tapi gue mohon jangan lakukan itu lagi ya..”
Kamu bodoh. Merokok di tribun penonton. Bagaimana bisa aku tidak melihatnya? Lagipula tanganmu pun ternodai oleh bau rokok. Marvell hanya tersenyum kecil dan menggumam dalam hati.
“Argh.. Just stop acting like you’re my dad.. Udahlah--” Rengek gadis itu.
“Tunggu gue di senat ya.. Gue evaluasi dan mandi dulu.. Setelah itu kita dinner..”
“Oke.. Kalau kamu lama, aku akan ditemani sebatang Black Menthol lagi..”
“It won’t be long, my dear Anabella.. Twenty minutes start from now..”
Marvell mengacak-acak rambut Bella dan berjalan menghampiri Armand, rekan satu timnya.
“Aww.. Here comes the prince.. Kapan lo akan jadian sama Bella?” Ledek Armand.
Marvell hanya tersenyum kecil, mengambil tasnya dan berjalan bersama Armand menuju tempat pelatihnya sedang melakukan evaluasi.
No comments:
Post a Comment