Monday, June 14, 2010

371iloveyou satu #2

“UHUK UHUK..” Bella terbatuk keras saat keluar dari kamarnya.
“Kemarin malam pulang jam berapa?” tanya Indira dingin.

Sesaat Bella menatap ibunya yang duduk di meja makan. Ia berjalan menuju dapur yang tak jauh dari sana dan mengaduk dua gelas latte hangat. Untuknya dan untuk sang ibu.

“Jam sepuluh..”
“Ngerjain apa sih di kampus? Harus sampai selarut itu?”

Ma, tolong.. Pagi ini jangan diisi dengan kemarahan.. Bella capek..

“Tugas, ma.. Semester ini semua mata kuliah tugasnya menggunung..”
“Udah tugasnya banyak, masih pergi ke gunung, masih rapat-rapat.. Sakit aja nggak sembuh-sembuh.. Disuruh minum obat susahnya minta ampun..”

Ma.. udah.. tolong jangan itu lagi..

“Ini cuma karna Bella kurang minum air kok, Ma.. Bella jarang bawa air minum lagi ke kampus.. Makanya batuk-batuk terus..”
“Dikasih tau, selalu ngebantah.. Terserah kamu lah..”

Bella terdiam dan mengunyah pelan roti tawar cokelat yang dari tadi tak habis-habis ia makan. Pagi itu ia habiskan dalam diam bersama Indira. Indira hanya membolak-balik halaman koran sambil sesekali menyeruput latte yang diseduhkan oleh putrinya.

Sedih? Tentu saja.

Sulit sekali memiliki waktu seperti ini. Sarapan bersama Indira. Suatu momen berharga bagi Bella, namun selalu berakhir mengenaskan.

Bella menatap jam tangan yang melingkar di tangannya. Waktu menunjukkan pukul sembilan tepat. Bella bergegas meraih tas merahnya, mengenakan sandal batik kesayangannya, dan pergi.

“Ma, Bella pergi dulu..”

Tak ada balasan jawaban dari Indira.

Ya sudahlah.. Bukan hal yang baru sekali ini terjadi.

Bella mengunci pintu pagar rumahnya. Ketika berbalik, matanya terpaku pada seorang wanita muda yang sedang menuntun seorang gadis kecil untuk mengantarkan gadis kecil itu ke taman kanak-kanak di seberang rumah Bella.

Bella menghela napas dan segera melangkahkan kakinya dengan cepat.

Rindu masa-masa itu..
***

1 comment:

  1. hang in there, Bella... for the worst to come... your true adulthood... :)

    ReplyDelete